22 Februari 2016

Tips Packing Saat Backpackeran

Doc : VjLee
Packing Saat Backpackeran atau tamasya bisa menjadi sebuah hal yang bikin malas. Membayangkan liburan dan updet status hingga komen-komenan lebih asyik ketimbang packing baju dan perlengkapan yang lainnya. Hem.... mimin juga kadang merasa begitu.

Mengusahakan packing terlebih awal di H-2 lebih aman ketimbang harus packing dadakan atau di H-1. Mengingat kebanyakan dari kita tidak terbiasa menggunakan daftar apa saja yang harus dibawa. Lain halnya sobat yang sudah menuliskan daftar checking barang sebelum packing, ini sangat membantu dan lebih bisa leyeh-leyeh sembari minum kopi dan mlototin foto di instagram atau sejenisnya. OK. Langsung saja buat sobat para backpacker yang baru-baru ini demen jalan karena begitu banyak racun liburan bertebaran, ini saatnya mimin kasih tips supaya banyak bawa barang namun sedikit Tas. Yup. Tips packing untuk mengoptimalkan ruang pada tas kita.

  • Packing beberapa hari sebelum keberangkatan

Para backpacker seringkali malakukan kesalahan saat packing barang, mereka biasanya melakukan packing barang sehari sebelum keberangkatan. Hal tersebut tentunya akan membuat anda kurang teliti dalam memilih barang yang akan dibawa saat traveling sehingga barang yang tidak penting bisa juga terbawa yang akan membuat tas anda tidak muat untuk menampungnya. Untuk itu, lakukan packing barang beberapa hari sebelum keberangkatan. Dengan melakukan packing dijauh hari, anda bisa merencanakan apa saja yang akan anda lakukan saat backpackeran, kemudian anda bisa mendaftar barang mungkin anda butuhkan saat disana.


  • Bawalah pakaian yang bisa dipakai lagi.

Saat backpackeran sobat bisa membawa pakaian yang dapat dipakai berkali-kali, seperti celana pendek, celana jeans dan lain sebagainya. Dengan begitu, sobat tidak harus membawa banyak pakaian saat backpackeran, Ini penting mengingat gak mungkin kita harus nyuci pakaingan kita di saat liburan dengan waktu yang tidak terlalu lama.

  • Gulung baju

Salah satu trik agar tas bisa memuat banyak barang adalah dengan menggulung baju. Selain itu, trik ini juga sangat efektif untuk menjaga baju agar tidak kusut, sehingga baju bisa tetap rapi saat digunakan. Untuk sobat yang muslim terutama cewek pastikan membawa mukenah yang praktis yang tidak sulit kita jumpai di pasar dengan wadah yang tidak banyak memakan tempat.

  • Bawa peralatan kosmetik dan mandi seperlunya saja

Untuk kosmetik dan peralatan mandi, sobat bisa menaruhnya di wadah yang berbeda. Bawalah peraltan tersebut seperlunya saja agar bisa lebih menghemat tempat di tas. Bawalah alas kaki seperlunya saja, kebanyakan orang membawa dua alas kaki yakni sepatu dan sendal, dengan jenis yang berbeda ini sobat bisa mendapatkan rasa nyaman ketika kaki sudah gerah menggunakan sepatu dan sendal akan menjalankan fungsinya serta membari rasa nyaman pada kaki sobat akibat gerah terlalu lama dalam sepatu.

Tradisi yang melekat pada masyarakat akan membawa oleh-oleh saat kita berpergian, dengan tips di atas memungkinkan untuk ada sisa ruang yang cukup untuk menampung oleh-oleh yang akan kita berikan pada keluarga, temen kantor, Pak.RT, dan Temen-temen yang lainnya. Ya. Gantungan kunci lah yang paling sedikit memakan tempat... hehehe

Itu aja dari mimin dan selamat berlibur kakak......

19 Februari 2016

Tips Mengatasi Hawa Dingin Di Gunung

Doc : Jember Backpacker

Mendaki gunung bukan lagi semata-mata aktifitas sebuah organisasi Pecinta Alam, namun orang biasa juga sudah bisa mendaki dan disebut seorang pendaki. dengan cara apa saja, bisa dengan mengikuti open trip/share cost, komunitas backpacker atau malah memang sengaja membayar pada jasa penyedia perjalanan naik gunung. Ya.Jasa travel yang juga ramai melirik peluang bisnis pada aktivitas pendakian ini sekarang.

Namun perlu diketahui bersama bahwa beraktifitas di alam bebas sangat membutuhkan perencanaan serta kesiapan yang baik, baik kesiapan fisik, mental, pengetahuan dasar pendakian maupun persiapan logistik yang menjadi kebutuhan dasar dalam melakukan aktifitas ini, tidak menutup kemungkinan yang ikut jasa perjalanan. Terkadang penyedia jasa tidak mencakup logistik jadi penyiapan logistik apa saja yang harus dibawa butuh perhitungan agar tidak over load atau malah kurang.

Beraktifitas di alam bebas sangat beresiko bagi yang tidak memahaminya, cuaca yang bisa cepat berubah-ubah dari panas, tiba-tiba menjadi hujan, dan kemudian menjadi dingin menusuk tulang sangat berbahaya bagi yang tidak mengerti akan hal ini. Namun kali ini penulis akan membagi tips terkait dengan mensiasati hawa dingin dan kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi akibat kedinginan.

Ada beberapa tips yang bisa kita jalankan agar kita terhindar dari hawa dingin saat melakukan aktifitas di alam bebas atau melakukan pendakian di gunung, sebab tidak sedikit yang meninggal dalam pendakian karena kedinginan atau Hipertermia. Berikut tipsnya :

  • Tidak Mendirikan Tenda Di Tempat Terbuka.

Mendirikan tenda dekat dengan tepohonan atau dibawah pohon lebih aman dari udara dingin yang menyerang ketika malam mulai tiba, mendirikan tenda dalam dataran luas atau terlalu terbuka menjadikan udara dalam tenda ikut dingin meskipun tenda yang kita bangun menggunakan dobel layer. Meminimkan resiko kedinginan amat penting untuk tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Mendirikan tenda dibawah pohon juga mengurangi banjir akibat hujan, ya jika musim hujan pastinya.


  • Bawalah Sleeping Bag dan Jaket.

Untuk mengurangi udara dingin saat melakukan aktifitas di alam bebas selain berada di dalam tenda, upayakan juga membawa perlengkapan lainnya yakni jaket dan sleeping bag. Sleeping Bag atau kantong tidur memang dirancang sedemikian rupa dengan bahan-bahan yang hangat untuk dipergunakan sebagai perlindungan diri dari dinginnya cuaca di gunung, Sleeping Bag mempunya beberapa jenis dan pastikan yang sobat bawa adalah memang dipruntukan untuk pendakian. Jadi usahakan bila anda melakukan aktifitas pendakian di gunung jangan terlupakan untuk membawa sleeping bag agar terhindar dari dinginnya suhu udara digunung sehingga anda bisa lebih nyaman beristirahat dan bisa melanjutkan perjalanan kembali di pagi hari.

  • Membuat Api Unggun (Jika Memang Diperlukan).

Membuat Api Unggun memang bisa mengurangi hawa dingin disekitar kita namun ini jika diperlukan saja dan memang ada kayu yang sudah tumbang dan kering disekitar, prinsip-prinsip pelestarian alam harus tetap dipertahankan, usahakan jangan pernah menebang pohon yang masih hijau dan segar, carilah ranting kayu yang telah kering dan tetap perhatikan juga kondisi api unggun yang telah anda buat dengan memberikan pembatas berupa batu atau apapun yang bisa menghalangi api menjalar. Jangan sampai hanya karena berkeinginan mengurangi dinginnya suhu di gunung anda malah mengakibatkan kebakaran hutan yang berada di gunung. Api unggun juga bisa berfungsi mengurangi serangan binatang liar.

  • Saling Berbagi Panas Tubuh.

Udara dingin yang menusuk tulang sedikit banyak dapat kita kurangi dengan berbagi panas tubuh antara teman atau sahabat dalam satu perjalanan. Kita bisa saling berdekatan dan bila kondisi memang memungkinkan kita bisa saling berpelukan. Karena dengan begitu udara disekitar tubuh kita akan menjadi lebih hangat sehingga kita bisa terhindar dari hipotermia atau kehilangan panas tubuh karena faktor kedinginan di gunung.

Mengurangi dingin juga bisa dengan membuat kopi atau teh hangat dengan campuran madu plus tolak angin.....hehehehe

Demikian tips yang mungkin berguna bagi sobat pendaki untuk mengatasi dinginnya udara saat  melakukan aktifitas pendakian di gunung. Namun tetap perlu diingat bahwa melakukan aktifitas di alam bebas tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, anda harus mempunyai persiapan dan membawa perlengkapan standar untuk kegiatan pendakian karena bagaimanapun keselamatan tetap menjadi prioritas utama bagi siapapun yang menjalankan aktifitas ini, dan tanyakan pada penyedia jasa perjalanan keperluan apa saja yang perlu dibawa jika sobat memang menggunakan jasa penyedia trip.

"jangan pernah membunuh apapun selain waktu, jangan pernah mengambil apapun selain foto, dan jangan pernah meninggalkan apapun selain jejak kaki" Lestari alamku, Lestari bumiku!!

16 Februari 2016

Tips Backpackeran Aman

Foto : Daniel
Sebenarnya, traveling itu nggak melulu mahal. Ada banyak cara untuk jalan-jalan murah. Menjadi backpacker atau berjalan-jalan ala backpacker yang merupakan salah satu cara untuk jalan-jalan murah. Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan jadi backpacker itu ribet karena semuanya harus diurusin sendiri. Backpacker kini menjadi salah satu gaya berpergian favorit bagi wisatawan. Dengan backpacker, Anda akan merencanakan perjalanan sendiri, mengatur bujet sendiri, hingga menentukan pilihan sendiri ke mana Anda akan melangkah.


Inilah tips untuk backpackeran aman yang sangat berguna untuk para backpacker (pemula) :

  • Cari Referensi Sebanyak Mungkin!

Melalui pencarian di internet, Anda mungkin mendapat banyak informasi tentang tempat tujuan. Tapi ingat, jangan puas dengan informasi yang sudah Anda dapatkan. Referensi yang terlalu sedikit, lebih berbahaya dari pada jadwal perjalanan yang terlalu ketat. Ada baiknya, Anda lebih mempelajari secara detil tentang bahasa lokal, norma-norma budaya, sejarah, dan juga letak geografis destinasi tujuan.

Refrensi ini juga bisa dicari dengan bergabung dengan grub-grub backpacker yang ada di facebook terutama kota yang akan kita tuju. Namun perlu di ingat, waspada pada teman baru itu penting untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan. Cari Grub yang aktif untuk memperkecil resiko, syukur-syukur kalau resiko itu tidak terjadi.

  • Usahakan Hanya Membawa 1 Ransel
Semakin berat beban bawaan anda, semakin berat beban yang harus ditopang oleh tubuh anda. Tentukan apa yang akan dibawa dan berapa banyak, akan mempermudah anda melakukan perjalanan secara nyaman. Ingat semakin banyak anda membawa barang bawaan semakin banyak yang harus anda jaga. Pilih pakaian dan sepatu yang nyaman dan tidak memerlukan perawatan khusus. Buatlah daftar barang bawaan agar rapi dan menghindarkan dari barang tertinggal atau tertukar. Namun jangan lupa bawa kamera ya.... Karena gak ada foto hoax katanya.hehehe

  • Atur Pengeluaran Pribadi
Pintar – pintarlah merinci sedetil mungkin biaya perjalanan dari awal. Perkiraan transport, menginap, harga akomodasi menuju tempat wisata, biaya taxi, makan, jajan, pulsa, sumbangan sukarela dll. Itu adalah nyawa dari seorang backpacker. Cari segala Informasi pengeluaran biaya di internet. Banyak sekali kok teman yang mau sharing pengalaman beserta rinciannya. Yang perlu di ingat jika menemukan harga dalam sebuah artikel, ada baiknya di lebihkan karena mengingat harga yang ditulis oleh penulis kemungkinan sudah kadarluarsa. Siapkan dana tak terduga ditempat yang aman untuk keperluan emergency.

  • Belajar Dari Kesalahan Teman
Hal terbaik untuk mendapatkan kenyamanan dan keamanan saat traveling. Baiknya, Anda mengikuti saran teman sebelum memulai perjalanan. Traveling adalah kombinasi spontanitas, kerendahan hati, keyakinan, dan disiplin. Namun, untuk menyatukan hal-hal tersebut tidaklah mudah. Melalui saran teman yang sudah melakukan perjalanan ke destinasi tujuan anda, pasti banyak informasi atau pengalaman menarik yang dapat menjadi acuan.

  • Destinasi Backpacker (Pemula)
Destination untuk para backpacker pemula harus ke kota yang tingkat keramahannya paling tinggi. Jangan nekat backpackeran ke daerah rawan kriminalitas, bisa-bisa dicopet karena bawa banyak tas. Uji coba backpacker ke jogja atau backpacker ke bali dulu, Jember juga boleh,,, orangnya ramah-ramah lho, apa lagi ketemu mimin bech... pasti pecah deh liburan kamu. lha kok promosi. OK kembali ke topik

Bagi para Backpacker yang baru pertama kali traveling, ingat dan pelajari tips diatas. Jangan lupa untuk terus waspada sepanjang jalan, tapi tetap menikmati tiap momen yang Anda temui di tempat-tempat yang baru.

Salam hangat dari kota kecil Jember.

15 Februari 2016

Gathering Nasional Ke-3, Jogyakarta MUJOSLAMET (Mubeng Jogja Sak Mumete)

Foto by Fika
 MUJOSLAMET - Kali ini Jember Backpacker dapat undangan dari teman - teman Backpacker Indonesia untuk mengikuti Gathering Nasional yang di adakan di Kota Jogjakarta. Tujuan dari adanya acara ini adalah untuk saling menyambung silaturrahmi, sharing tentang kegiatan kebackpackeran, tentang berdiri dan berjalannya rumpun besar yang disebut Backpacker Indonesia atau yang biasa di singkat BPI. Disini kami berpartisipasi dan ikut meramaikan acara ini sebagai peserta. Bukan hanya dari Jember, acara ini juga dihadiri oleh beberapa regional lain seperti Surabaya, Bandung, Jabodetabek, Tangerang, Bali, Palembang, dan beberapa regional lainnya.

Kami yang saat itu untuk pertama kalinya bergabung merasa canggung karena akan bertemu dengan sesama penyuka perjalanan dan petualangan, namun karena memiliki kesamaan hobi sehingga tak sulit untuk kami bergaul dan bercengkrama dengan mereka. Mereka juga tak saling membedakan dan menerima kehadiran kami dengan tangan terbuka.

Jember Backpacker mengirimkan 9 orang perwakilannya. Mereka adalah Iqee, Azi, Ayu, Marwa, Imam, Fendi, Bitha, Dav dan istri.  Namun karena suatu kendala sehingga kami tidak berangkat bersama - sama dari Jember. Lima orang yakni Iqee, Amzi, Ayu, Marwa, dan Imam berangkat bersama - sama menggunakan kereta Sri Tanjung pada pukul 9 Pagi. Mereka ketambahan Andri yang juga akan berangkat ke Jogja, Andri sendiri mewakili Regional Surabaya. Sedang Bitha dan Fendy harus menyusul bersama teman - teman Regional Surabaya menggunakan bus di karenakan masih harus bekerja terlebih dahulu sehingga baru bisa berangkat pada malam harinya. Dav dan istri berangkat dari Semarang karena alasan pekerjaan.

Acara ini di jadwalkan di mulai pada tanggal 23 Mei 2015 dan berakhir pada 24 Mei 2015. Nantinya peserta dari seluruh regional di lebur menjadi kelompok - kelompok, lalu kemudian mereka di beri map, uang saku beserta note book untuk mengeksplor Jogja bersama kelompok masing - masing. Eitss, bukan hanya sekedar eksplor, di tiap pos akan ada game yang seru - seru. Eksploring yang di lakukan juga menguji kemampuan dan pengetahuan mereka sebagai pejalan, bagaimana cara agar cepat sampai di tujuan, cara mencari tumpangan murah dan hemat biaya, serta tim work.

Beberapa tempat yang wajib di datangi di antaranya Tugu Monumen, Keraton, dan Kota Gede. Start tempat acara sendiri adalah di Pakualaman dan finish di Youth Centre. Setibanya di finish, masing - masing peserta di minta membuat rangkuman perjalanan, ya semacam cerita pendek tentang perjalanan yang mereka alami hari itu dan menulis sisa uang yang telah di berikan oleh panitia sebelumnya, ini untuk mengetahui seberapa pintar peserta dalam memenejemen perjalanan mereka. Di Youth Centre sendiri, peserta telah di sediakan tempat untuk beristirahat dan beberapa hidangan pastinya. :D

4 Maret 2014

Social Skill Backpacker

Foto : Dadi Wiryawan
Social Skills / Sosial Skill atau keterampilan sosial seringkali diartikan sebagai keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi, berhubungan, dan bersosialisasi dengan orang lain. Akan tetapi kita harus ingat bahwa keterampilan-keterampilan ini bisa saja memiliki pengertian yang berbeda antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain.

Seorang Backpacker setidaknya memiliki skil ini. Sebab, ketika kita melakukan sebuah perjalanan, kita akan bertemu dengan berbagai orang dengan karakter masing-masing. Dan social skill adalah kunci untuk kita bisa mendapatkan informasi juga mengenal tempat yang kita tuju.

Jika kita melihat kembali Sejarah Backpacker.

Seorang yang datang ketempat baru sangatlah butuh pendekatan pada penduduk sekitar, karen social skill lebih dari sebuah GPS yang hanya bisa menuntun kita ketempat tujuan tanpa kita paham Budaya, Kesnian, dan Adat tempat yang kita tuju.

Bentuk-bentuk komunikasi ini kerap menjadi alat bagi orang lain dalam menentukan status seseorang lainnya, mempertimbangkan apakah orang tersebut merupakan teman atau orang yang baru di kenal.

Social skills mencakup bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal.

Keterampilan verbal antara lain kemampuan untuk menentukan hal-hal yang tepat untuk dikatakan di waktu yang tepat pula, mampu berkomunikasi dengan cara yang memikat, Pinta memilih topik bahasan dan mampu berbicara dengan cara yang terdidik namun tetap bisa dipahami oleh akal sehat. Dengan kata lain, social skills bisa ditentukan melalui apa yang dikatakannya, kapan dia mengatakannya, dan bagaimana cara dia mengatakannya.

Keterampilan verbal yang buruk bisa diartikan sebagai memiliki suara yang monoton, mengatakan hal-hal yang salah, berbicara terlalu pelan sehingga sulit terdengar atau terlalu keras sehingga terasa mengganggu, atau berbicara mengenai topik yang membosankan. Orang yang hanya bisa berkata-kata tentang satu topik saja juga akan dipandang sebagai seseorang yang memiliki social skills yang buruk. Dengan demikian, cara penangkapan suara pembicara bisa membuat seseorang membuat penilaian singkat mengenai pembicara itu, walaupun seringkali penilaian itu keliru.

Aspek social skills lainnya adalah nonverbal. Bahasa tubuh, berdiri tegak, melakukan kontak mata, menampilkan gestur yang tepat, mencondongkan tubuh ke arah orang yang sedang berbicara, mengeluarkan senyum yang tepat, dan tetap memperlihatkan gerak tubuh yang terbuka bisa dianggap sebagai keterampilan nonverbal yang baik. 

Harus diingat bahasa tubuh kita juga bisa di bilang keterlaluan jika kita tidak menjaga sopan santun. 

Selain itu, orang yang memiliki keterampilan sosial yang baik juga merupakan seorang pendengar yang baik. Menganggukkan kepala, kadang-kadang mengeluarkan celetukan, dan memperhatikan komunikasi orang lain juga hal yang berharga. Orang tidak hanya sekedar ingin menjadi sasaran berbicara, tapi juga ingin diajak berbincang-bincang. Adanya perasaan bahwa kedua komunikator mengambil bagian yang sama dalam sebuah percakapan memperlihatkan adanya social skills yang mahir.

Lawan dari social skills adalah social ineptitude, yakni sebuah ketidakmampuan dalam menggunakan elemen-elemen komunikasi yang seharusnya bisa membuat seseorang menjadi seorang komunikator yang baik.

Meskipun social skills bisa dipelajari, beberapa orang tampaknya sudah terlahir dengan bakat social skills yang baik. Sementara orang lainnya bisa kelihatan berjuang habis-habisan karena ketidakmampuan berkomunikasi. Meskipun banyak yang akhirnya bisa mengalahkan kecemasan sosial, orang-orang yang terbentur gangguan berbahasa seringkali harus mengalami perjuangan berat dalam menjalin sebuah hubungan dan akan terbiasa dinilai melalui kualitas dalam diri mereka ketimbang kemampuan mereka yang diartikan oleh kebudayaan mereka sendiri sebagai social skills.

Malu bertanya Sesat di jalan, mungkin ini pepatah yang tepat untuk menggambarkan tentang Social Skill yang kita bahas di atas.

Tanpa keterampilan bersosial liburan kita hanyalah liburan biasa tak lebih dari sekedar jalan-jalan dan menikmati pemandangan. Social skill juga bisa menentukan kita bisa bertahan diperjalanan atau tidak, karna mungkin saja dengan kita pandai berkomunikasi dan melakukan pendekatan pada penduduk, kita bisa menumpang dan tanpa harus mengeluarkan uang untuk menginap.

Salam Ransel

13 Januari 2014

Jember Punya Angkringan

Foto : Vj Lie
       Jember sekarang mulai punya Angkringan, berberapa bulan terakhir Angkringan di Jember Mulai bertumbuh, untuk pertama kali yang admin tahu di perempatan Mangli, lalu disusul di Jalan Karimata dan Warung Pojok RRI (Radio Republik Indonesia), entah nanti tumbuh dimana lagi.

     Seperti yang kita tahu, Angkringan adalah tempat cangkruk khas Jogja, seiring terkenalnya angkringan, angkringan mulai berkembang hingga di kota-kota luar Jogjakarta, salah satunya di kota kecil Jember. Ketika kita mendengar kata Angkringan, yang terlintas pasti Nasi Kucing dan Kopi Joss. Jangan khawatir perut anda kelempoken saat anda memesan Kopi Joss, sebab Kopi Joss yang ada di Jember sudah disesuaikan dengan kebiasaan orang Jember yang saat minum kopi, jadi Kopi Joss di Jember sudah menggunakan gelas kecil, bukan lagi gelas besar seperti yang ada di kota asalnya (Jogja).

      Angkringan yang admin kunjungi kali ini angkringan bernama Warung Pojok RRI, Angkringan ini berada di halaman pojok gedung RRI, sesuai dengan namanya. Tempat yang cukup luas dan bersih, menjadikan angkringan ini diminati pembeli, tidak hanya itu tempat parkir angkringan juga luas, makanya banyak pembeli yang betah menghabiskan waktu di angkringan Pojok RRI.

Foto : Vj Lie
      Menu yang di sajikan sama seperti angkringan pada umumnya, yakni Nasi Kucing, Kopi Joss, Sate Usus, Sate Telur Puyuh, Baceman, dan lain-lain. Harga yang ditawarkan angkringan Warung Pojok RRI bersahabat dengan kantong pastinya, untuk satu gelas Kopi Joss dihargai Rp.4000, dan Wedang Uwuh Rp.5000, untuk makanannya sendiri seperti Sego Kucing Rp.2000, Sate Usus Rp.2000, Ceker Rp.1000.

      Angkringan Pojok RRI juga menawarkan Wedang Uwuh. Wedang khas kota Jogja yang wajib Anda coba, minum wedang dengan rempah-rempah ini membuat badan capek atau lesu Anda terobati dan sekaligus menambah stamina Anda.

        Ketika Anda bingung mencari tempat buat cangkruk bersama teman atau sedang backpackeran di Jember, ada baiknya mampir ke angkringan Warung Pojok RRI. Namun Anda jangan kecewa jika angkringa Pojok RRI penuh dengan pelanggan setiannya, Anda juga masih bisa menikmati angkringan di Jalan Karimata (Utara Kantor Pajak), atau di perempatan Mangli.


Salam Ransel

9 Januari 2014

Kopi Kolong di Jembatan Botol

Foto : vj lie
     Jember mampunyai masyarakat yang bisa dibilang pecinta kopi, di Kecamatan Ambulu sendiri punya julukan seribu warung kopi, berbeda tipis dengan kota Manggar yang ada di Blitung Timur. Kota tersebut memiliki julukan seribu satu warung kopi. Namun kali ini admin tidak ingin membahas Kecamatan Ambulu, tapi kali ini admin mau membahas soal Kopi Kolong destinasi baru untuk pecinta kopi.

      Warung kopi ini berada di bawah jembatan Botol. Jembatan Botol yang admin maksud bukan jembatan botol dengan arti sesungguhnya, namun jembatan botol ini adalah nama jembatan yang dahulu dibuat dari hasil penjualan botol-botol kosong dan buah kelapa atas himbauan Bupati Jembar yang ke delapan. Bupati tersebut bernama Pak Djarwo beliau juga sempat menjadi Bupati Jember yang ke enam. Jembatan ini sekarang dikenal jembatan Mastrip, jembatan yang di bangun pada tahun 1961 dan selesai pada tahun 1976 ini sampai sekarang masih berdiri kokoh menopang hilir mudik masyarakat Jember.

     Kopi Kolong masih di bilang tempat tongkrongan baru, sebab masih tahun kemarin kolong jembatan ini dibenahi hingga menjadi tempat ngopi yang asik dan mbois. Berada di pusat kota tidak membuat suasana di Kopi Kolong menjadi tidak nikmat, dengan cahaya redup lampu-lampu kecil yang menempel di dinding-dinding, juga tempat meracik kopi ala bartender menjadikan suasana ini nyaman serta romantis kalau Anda menikmatinya bersama kekasih.
Foto : vj lie

      Kopi Kolong berada di jalan mastrip. Untuk ketempat ini juga tidak perlu bingung karena berada di tengah kota yang masih masuk kawasan kampus. Kopi yang ditawarkan cukup berfariasi dengan harga mulai dari Rp.2500, dan di tempat ini tidak hanya kopi saja, namun juga minuman seperti juss juga ditawarkan. Untuk makanan, disediakan gorengan, nasi, dan makanan yang cocok untuk menemani secangkir kopi Anda. Warung kopi satu ini buka dari jam 18:00 wib sampai lewat tengah malam.

      Kopi Kolong bisa menjadi destinasi menarik yang bisa dikunjungi ketika anda berada di Jember. Setelah seharaian jalan-jalan tentunya beristirahat dengan secangkir kopi lebih nikmat untuk menikmati kota kecil jember lewat seduhan kopi panasnya.

2 Januari 2014

Pantai Payangan

Foto : Vj Lie
     Payangan. Mungkin hanya orang Jember saja yang tahu dengan pantai ini, pantai yang punya 3 bukit dan 1 pulau. Pesona pantai ini tidak berhenti sampai disitu saja karena masih ada tiga pantai yang ada di Payangan, pantai yang berada di utara memiliki bibir pantai yang melengkung dengan pasir hitam, disisi tengah mempunyai pantai dengan bebatuan cantik seperti yang ada di Bangka, disisi selatan terhampar sabana dan tempat parkir perahu-perahu nelayan Payangan yang berjejer dengan rapi, disisi selatan ini kita bisa menikmati matahari terbenam disamping pulau yang berada didepan pantai.

     Wisata ini dikelola oleh warga setempat, kita hanya dikenakan biaya parkir senilai Rp.3500 untuk motor dan Rp.5000 untuk mobil (data 2013-2014), kemungkinan tarif parkir naik tentu ada, mengikuti perkembangan dan hari-hari besar seperti liburan tahun baru. Warga yang bermayoritaskan nelayan juga mempunya tradisi tahunan Petik Laut, yang dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit ketika bulan Suro tiba. Di Payangan kita juga bisa menjumpai warga yang sedang membuat Trasi secara tradisional dan juga Nelayan yang sedang memperbaiki jaring-jaring mereka.

Foto : Vj Lie
Fasilitas yang tersedia untuk saat ini (2014) :
Toilet.
Tempat Parkir Motor/Mobil.
Camping Ground (sabana di sisi selatan).
Warung-warung warga yang menyediakan makanan.

     Payangan terletak di kec.Ambulu jalan menuju Payangan bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi motor ataupun mobil. Namun untuk Anda yang suka bepergian dengan berjalan kaki atau menggunakan angkutan umum, Payangan hanya bisa di akses menggunakan Ojek, karena belum ada angkutan yang melayani rute ke Payangan, tapi dengan keramahan masyarakat Ambulu kita bisa menumpang pada kendaraan yang melewati jalur menuju payangan hingga tiba di pantai ini.

     Menuju pantai ini, pertama kita posisikan diri berada di perempatan Kec.Ambulu Kab.Jember setelah itu kita ambil jalur keselatan dan ikuti jalur tersebut, jalur serupa dengan jalur yang akan menuju pantai Papuma namun untuk ke Payangan kita hanya lurus kearah selatan tanpa berbelok kearah Papuma.

Catatan :
- Jika ada Anda kebingungan dengan arah menuju lokasi Penulis menyarankan untuk bertanya pada masyarakat/warha sekitar. Keramahan masyarakat Jember akan menunjukan arah yang benar untuk Anda.
- Tarif parkir akan disesuaikan dengan laju ekonomi, jadi bisa dipastikan kemungkinan akan naik sewaktu-waktu.

27 Desember 2013

Souvenir Jember

Foto : Doc Indra Production

     Souvenir Jember. Banyak orang tahu tentang oleh-oleh khas kota Jember yakni suar-suir, namun apakah banyak orang tahu tentang oleh-oleh kerajinan tangan yang diproduksi di kota kecil ini?. Jember memiliki desa yang memproduksi aneka cendra mata yang terletak disisi selatan kota, jarak yang harus ditempuh untuk sampai di Desa ini sekitar 28 kilo meter dari pusat kota. Berada didalam kecamatan Balung, desa ini memiliki nama desa Tutul atau biasa dikenal dengan nama Balung Tutul. Desa Tutul adalah desa sentra industri kerajinan tangan yang memproduksi bermacam-macam kerajinan, keuletan dan kerja keras menjadikan produk kerajinan tangan desa ini tembus ke pasar Internasional.

     Letak desa Tutul yang tidak begitu jauh dengan akses yang mundah dijangkau menjadikan kita tidak perlu bingung untuk sampai dan menyaksikan langsung pembuatannya sembari memilih-milih souvenir yang cocok untuk dibawa pulang ke kota asal sebagai oleh-oleh liburan. Cukup satu kali menggunakan angkutan umum dari terminal Jember ke Balung Tutul dengan menaiki angkutan jurusan Puger atau Kencong. Backpacker bisa turun di perempatan Patona kecamatan Balung desa Tutul sebagai tujuan pemberhentian. Setelah itu bisa jalan kaki tapi jasa transportasi seperti becak motor maupun becak konvensional juga menarik untuk Backpacker nikmati sembari melihat ibu-ibu meragkai tasbih di teras rumah dan butiran-butiran tasbih yang sedang di jemur untuk proses pengeringan.


Foto : Doc Indra Production
Berikut Produck yang dihasilkan oleh desa Tutul :
- Tasbih
- Sabuk
- Keris
- Tongkat
- Japamala
- Seni Ukir
- Bomerang
- Paper Bag
- Lampu Kamar
- Gelang, Cincin dan Kalung
- Alat Musik (Jimbe, Terbang, Maracas, Karimba, dll)
- Pralatan Dapur (centong, cobek, ulekan, dll)

     Bahan baku dalam pembuatan kerajinan ini beragam, ada yang bahan baku lokal dan ada pula yang didatangangkan dari negara timur tengah seperti Arab dan Mesir. Harga setiap produk beragam tergantung kesulitan serta bahan yang di gunakan. Soal kualitas jangan diragukan lagi produk hasil desa Tutul sudah menembus pasar Internasional jadi sudah terbukti kualitasnya. Namun ada baiknya ketika kita membeli barang diteliti lagi karena kelalaian atau miss yang mengakibatkan barang cacat produksi masuk di golongan good product.

Catatan :
  • Masyarakat Jember tergolong masyarakat yang ramah jadi jangan sungkan-sungkan atau canggung untuk bertanya jika menghadapi kebingunggan atau salah jalan. 
  • Harga sengaja tidak dicantumkan oleh penulis karena beragamnya harga
  • Desa Tutul bukan desa wisata yang dikelola dengan rapi, karena desa ini desa industri kreatif namun kita masih bisa melihat lihat dan langsung beli di galeri maupun ditempat peroduksi.
  • Info lebih lengkap kunjungi Jember Backpacker di Facebook Ini.

Backpacker ke Papuma

Foto : vj lie
     PAPUMA. Mungkin untuk orang Jember terasa tidak asing lagi mendengar kata Papuma, tapi bagi orang diluar kota Jember akan bertannya Papuma itu apa?. Papuma kepanjangan dari pasir putih malikan, Papuma ini masuk dalam destinasi wisata kota Jember. Pantai yang terletak disisi selatan kota Jember ini mempunyai daya tarik yang cukup tinggi. Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat keramaian kota, untuk menuju kesana kita harus menempuh jarak 38 kilo meter dengan pemandangan hamparan sawah dan tentunya juga pemukiman penduduk.

     Wisata Papuma memiliki pantai berkarang besar dengan pasir putih yang halus, disini kita bisa melihat sunrise atau matahari terbit ketika pagi dan sunset atau matahari terbenam di sore hari. Papuma bisa dibilang surga fotografi, namun untuk hari-hari besar atau libur panjang sampah di kawasan Papuma mengalami peningkatan seiring banyaknya pengunjung. Selayaknya masalah-masalah wisata ditempat lain sampah di Papuma juga menjadi problem klasik sampai sekarang (2013). Perlunya kesadaran dari pengunjung untuk membuang sampahnya sendiri (minimal) pada tempat yang sudah disediakan kurang tinggi, begitu juga dengan pengelola yang masih kurang memfasilitasi bak-bak sampah.

Fasilitas yang ditawarkan Papuma  antara lain :
- Penginapan
- Outbound
- Warung Makanan
- Kios Souvenir
- Shelter
- Musholla
- Jalan Lintas dan Pendakian
- Tempat Istirahat/Balairung
- Bumi Perkemahan
- Gazebo
- Playground
- Areal Parkir
- MCK

      Transportasi menuju ke Papuma dibilang cukup sulit untuk kita yang bepergian mengandalkan angkutan umum, sebab angkutan umum di Jember tidak ada yang langsung menuju kawasan pantai. Backpacker dari luar kota Jember hanya bisa menggunakan angkutan umum sampai di kecamatan Jenggawah yang terletak 20 kilo meter sebelum pantai untuk saat ini (2013). 

     Backpacker bisa menggunakan jasa angkot warna kuning dari stasiun dan terminal Jember menuju terminal Ajung, yang kemudian dilanjut dengan menggunakan angkutan pedesaan hingga kecamatan Jenggawah. Sesampai di Jenggawah Backpacker bisa menumpang kendaraan masyarakat Jember untuk menuju Papuma, bagi Backpacker dengan jumlah banyak maka bisa memanfaatkan carter mobil angkot dengan biaya yang dirundingkan sebelumnya dengan supir angkot.

     Lain cerita jika Backpacker menggunakan motor atau mobil pribadi, menuju kawasan Papuma tergolong mudah. Backpacker yang sudah masuk daam kawasan kota Jember tinggal menuju kearah kecamatan Ambulu, lalu diteruskan menuju pantai Papuma. 

Catatan :
  • Masyarakat Jember tergolong masyarakat yang ramah jadi jangan sungkan-sungkan atau canggung untuk bertanya jika menghadapi kebingunggan atau salah jalan.
  • Tiket masuk Papuma mengalami naik turun sehingga penulis tidak mencantumkan harga tiket pada artikel ini. 
  • Transportasi yang penulis gambarkan adalah keadaan ketika artikel ini dibuat yakni 28 Desember 2013.
  • Fasilitas yang ada di Papuma mungkin juga akan mengalami perubahan seiring laju perkembangan wisata yang ada di jember.
  • Pantai Papuma adalah pantai selatan yang mempunya karakter ombak besar, jadi diharapkan pengunjung mengerti dengan keadaan tersebut.







8 Desember 2013

Gunung Bukan Tempat Sampah !!!



Gunung Bukan Tempat Sampah
    Mendaki sebuah gunung saat ini sudah sebagai life style tersendiri, ketika kota di banjiri oleh kesibukan jam kerja, demo dan lain sebagainya. Mendaki menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk melepas penat dalam kehidupan sehari-hari, informasi yang mudah didapat dan ada beberapa agen travel menyedikan perjalanan mendaki gunung itu mempermudah seseorang untuk menikmati rimba.
     Beberapa waktu lalu tayangnya film 5 cm bisa dibilang menjadi titik awal menjamurnya pendakian di gunung-gunung Indonesia, salah satunya di gunung Semeru. Dalam film yang di perankan oleh Herjunot Ali dan kawan-kawan ini memberi gambaran betapa indah dan lestarinya gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) itu.

    Efeknya bermunculan pendaki-pendaki baru, mereka yang kurang tahu tentang sikap pendaki yang membawa turun sampahnya, menjadi sebuah hal yang sampai kini (Desember 2013) menjadi masalah tersendiri. Penumpukan titik-titik sampah dan dijalur pendakian mulai terlihat, sampah plastik bungkus permen, jamu masuk angin, sampau bungkus madu.

     Polemik lain juga muncul di gunung tempat bersemayam para Dewa ini. Tumbuhnya pendaki-pendaki baru yang begitu banyak dan minim pengalamn memunculkan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar yang hidup di daerah sekitar pos pendakian. Penduduk dilibatkan sebagai penyedia jasa porter dengan upah 150-200 ribu membuat penyedia jasa tumbuh subur. Namun bukan itu masalahnya, masalahnya dalah porter-porter ini enggan membawa turun sampah-sampah milik pengguna jasa.

     Porter cenderung membakar sampah di samping selter atau tempat para pendaki membuka tendanya, dalam hal ini Ranu Kumbolo dengan alasan yang bervariatif. Tempat pembakaran/pembuangan sampah yang berada dikemiringan lebih tinggi dari sumber air menjadi masalah, sebabab ketika musim penghujan air akan membawa zat-zat yang terkandung dalam sampah mengalir masuk dalam Ranu Kumbolo.

     Ranu Kumbolah adalah tempat bermalam pertama bagi para pendaki, menggembalikan tenaga dan melihat sunrise sebelum melanjutkan pendakian ke Kalimati. Air disini digunakan sebagai air minum dan memasak bagi para pendaki, bukan tidak mungkin jika musim penghujan datang dan air sudah terkontaminasi dengan zat-zat bisa menjadi sumber penyakit walau sudah di panaskan terlebih dahulu. Apa Kita, Kalian, atau Kamu ingin membuat Kumbolo menjadi sarang penyakit akibat sampah? Saya harap tidak. 

Jember Backpacker
       Memberi pengetahuan dan pengawasan terhadap porter tentang pelestarian perlu dilakukan oleh TNBTS.  Beberapa komunitas pendaki juga menyuarakan "GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH", salah satunya Trasbag Cominity. Melalui ini mereka membersihkan sampah-sampah saudara kita yang masih belum tahu tentang sebuah pelestarian alam. Mereka juga menyuarakan ini melalui media sosial dengan tujuan yang mulia, tujuan melestarikan Alam dan Rimba kita tidak kotor akibat sampah.

      Melalui tulisan ini kami Jember Backpacker ingin mengajak teman-teman backpacker yang lain menyuarakan hal yang sama yakni "GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH". Karena pecinta alam bukan dilihat dari kita ikut dalam organisasi pecinta alam atau tidak, pecinta alam adalah mereka yang peduli dan cinta dengan pelestarian alam melalui dirinya sendiri dan tidak memandang komunitas. Bendera kita boleh beda namun melestarikan alam adalah tanggung jawab bersama.

#Salam Lestari
#Salam Ransel
#Salam hangat dari kami Jember Backpacker

Apa Yang Kau Cari, Hay Pendaki ?

Foto : Vj Lie

Lewat obrolan virtual itu  kau bertanya tentang petualangan-petualanganku. Tentang seberapa banyak puncak tinggi yang pernah kugagahi. Juga tentang seberapa luas rimba raya yang telah kucumbui. Selebihnya kau hanya bercerita tentang petualanganmu saja, tanpa titik koma. Padahal jika bisa kau  tatap mataku saat itu, tentu kau akan tahu jika sebenarnya aku enggan mendengar ceritamu.

Beberapa belas tahun yang lalu aku juga sama sepertimu kawan. Ketika secarik kain berwarna ungu itu baru saja melingkar di leherku. Saat benak ini hanya dipenuhi oleh satu obsesi. Mendaki, mendaki dan mendaki, itu saja. Namun, di tengah perjalanan akhirnya aku baru sadar akan sesuatu. Tak harus menjadi seorang pencinta alam, jika kau hanya ingin berpetualang! Sebab, mendaki sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya aku atau kamu, tapi juga mereka.

Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan,  puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat  pulang, dan kembali berkumpul dengan keluarga?.

Kawan, mendaki itu bukan sebatas menumpuk dokumentasi di situs jejaring pribadi. Bukan pula ajang pembuktian sebagai seorang pencinta alam yang jantan. Jika itu saja yang ada dalam pikiranmu, kurasa kau masih belum memahami esensi dari mendaki. Dari setiap cucuran keringat, disitu ada mutiara hikmat. Dalam setiap perjalanan, disitu pula ada makna pelajaran tentang kehidupan.

Saat kau dirundung gila tenar dan sanjung. Cobalah untuk berdiri di puncak tinggi itu. Lihat kawan, adakah sorak sorai tepuk tangan penonton yang mengitarimu. Adakah spanduk "selamat datang" yang menyambutmu? Mungkinkah pula ada sebuah tropi yang bisa kau angkat tinggi-tinggi sebagai tanda kemenanganmu?

Saat kau di puncak tinggi itu, mungkin saja kau merasa lebih tinggi dari segalanya. Coba tengok di sekelilingmu. Kanan, kiri dan juga  yang ada di atasmu. Lihat, bandingkan dirimu dengan bentang alam yang menghampar di sana. Bayangkan dirimu ada diantaranya, itulah sebenarnya dirimu. Kau tak lebih hanyalah sebuah noktah yang mungkin tak nampak jika ditatap dari kejauhan. Masihkah kau merasa lebih tinggi? Jadi, kenapa kita merasa seakan mampu memegang matahari? Bukankah masih ada langit di atas langit masih ada langi kawan? Tak mungkin  kita mampu menggapai matahari itu. Bahkan untuk menatapnya saja, kau tak akan kuasa oleh silaunya.

Berada di puncak yang paling tinggi, bukan berarti kita telah menjadi pemenang sejati.  Jangan lupa kawan, semakin tinggi tempat kita berdiri, semakin kencang pula angin yang menerpa di kanan kiri. Posisi tinggi dalam kehidupan bukanlah jaminan tidur kita akan menjadi aman sekaligus nyaman. Sebab, bisa jadi ada angin dari luar sana yang akan menerpamu secara bertubi-tubi. Sekencang-kencangnya, tanpa kau sadari dari arah mana datangnya. Bahkan acapkali angin itu mencoba menjatuhkanmu hingga posisi serendah-rendahnya. Tapi, santai saja kawan. Bukan itu yang perlu kamu takuti. Jadikan saja ikhlas dan sabar sebagai tameng  untuk menahan terpaan angin di luaran sana.

Kuhanya takut  hembusan angin kecil dalam diri yang justru akan menggoyahkan kaki penopang kita berdiri. Tiupan angin dalam hati bernama sombong, riya' dan dengki, itulah yang harus kita waspadai. Jangan biarkan tiupan itu semakin berhembus, menerobos dinding hati ini. Sebab, jika itu menjadi kebiasaan, bisa jadi akan menjadi sindrom saat usia senja nanti. Saat rambutmu telah dipenuhi uban, kau masih saja sibuk berebut pujian. Saat keriput mulai membalut kulitmu, kau pun masih saja bernafsu memburu jempol-jempol itu.

Kawan, bukan berarti aku antipati pada kata-kata mendaki. sebab, hingga hari ini petualangan itu masih kusenangi. Mungkin saja aku sedang jemu untuk melakukannya. Seperti halnya kejemuanku pada dunia abstrak yang sedang kulakoni lewat layar mini ini. Mungkin ada baiknya kita berbincang tentang hal yang lain saja. Sesuatu yang lebih pencinta alam tentunya. Tentang perikulum in mora Atau tentang alam raya yang butuh sentuhan sayang dari tangan kita. Kenapa kita enggan perbincangkan  jernih sungai yang sekarang berubah bak comberan? Kenapa kita tak berdiskusi lagi tentang burung-burung yang enggan bernyanyi kala pagi hari?

Mungkin lain waktu kubiarkan ransel gunung itu kembali memijat lembut punggungku. Mungkin lain hari aku akan kembali mendaki sepertimu. Tapi, tentu saja bukan bermaksud untuk menjadi yang lebih tinggi, atau mungkin meninggi. Sebab, mendaki itu kulakoni 'tuk sekedar mengasorkan diri.

Salam Lestari !

Copas Artikel Mas lozz

8 November 2013

Foto Jember Backpacker

          Foto sebuah kebiasaan yang sulit di tinggalkan oleh setiap pecinta jalan-jalan, dan ini adalah foto anggota untuk sebuah kenangan pada tempat yang sudah di pijaki.

Ain di Papandayan


Syifa di Curah Macan

Vj Lie di Teluk Ijo

Angga di paltuding-ijen

Qory di Nanggelan

Desa Curah Macan

Kami dengan Warga
        Siapa yang tidak merasa bangga jika nama tempat asalnya adalah nama yang membanggakan. Macan adalah hewan yang dilindungi oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Dunia, Macan atau Harimau ini memiliki simbol kekuatan dalam trah suku jawa. Desa ini memiliki nama Curah Macan yang memiliki arti tempat dimana Macan/Harimau itu turun dari rimba.

        Warga desa Curah Macan begitu ramah dengan segala keterbatasan, tidak ada listrik sepanjang hari, tidak ada signal hanphone, dan tidak ada surat tanah hak milik pada setiap bangunan yang mereka diami. Namun dengan segala keterbatasan itu, warga desa masih bisa tersenyum dan menyambut kami dengan ramah dan terbuka. Menganggap kami adalah saudara jauh yang sedang kembali kerumah asal untuk bertemu dan bercengkramah.

        Mayoritas penduduk disini adalah petani dan pekerja dikebun kopi milik Perkebunan Nusantara (PTPN). Aktifitas warga dimulai setelah sholat subuh, ketika kentong dibunyikan oleh mandor yang menjadi penanda warga harus siap-siap untuk pergi kekebun kopi milik negara. Seduhan kopi hitam saat mau berangkat sudah menjadi tradisi disini, pria dan wanita berjalan menuju kebun ketika kopi sudah diminum.

        Para pekerja kebun tidak hanya dari desa Curah Macan saja, namun juga ada yang berasal dari desa Curah Capil dan desa-desa lain disekitarnya. Kami yang ketika pagi mengamati keseharian para penduduk desa merasa nyaman oleh suasana pagi disini, dengan udara sejuk pegunungan dan melihat barisan para pekerja berjalan beriringan dengan saling ngobrol dan tegur sapa. Tradisi yang mulai luntur saat kami berada dikota besar.

        Tidak jauh dari desa curah macan, suguhan padang sabana dengan bukit-bukit amat bagus untuk menjadi tempat camp bersama. Menikamti malam dengan sinar rembulan dan taburan bintang, sepertinya menarik untuk direalisasi dikala libur. Namun tersiar kabar akan ada industri tambang berupa panas bumi di kawasan ini, pengeboran berada tidak jauh dari desa yang berpenduduk sekitar 300KK. Semoga pemerintah lebih mementingkan warga ketimbang exploitasi dengan alasan kesejahtraan tapi hanya menguntungkan investor saja.

Kab. Bondowoso
Kec.Sempol
Desa. Curah Macan
padang sabana



Ranu Kumbolo


Tumpengan
Gunakan Gigi Satu
Nampang nang Kumbolo


Seng penting ASIK

Ngangkring

Masak lek

Gaya ey

Kembali ke pane

to potoan nang pos

Nang Tanjakan Cinta

Pas neng nanggelan

ya gayaan sebelum nyasar

pisssss

persiapan to fotoan

jebret

jebret

Di Pantai Nanggelan